Losing Us #3
Aku penyair gagal - tidak berhasil membuat alur menyenangkan.
Beberapa bulan semenjak hari itu,
Tugas mengarang sudah dimulai, kamu apa kabar? Aku mendapat tugas mengarang dan penaku ingin mengabadikan tentangmu. Nanti kalau kamu baca, boleh ya senyum 8 detik saja, tidak perlu lama. Aku takut kewalahan menampung diksi dari senyum yang kamu ciptakan.
"Coba kamu baca, aku sudah cocok belum jadi penyair?" Aku memberikan sebuah tulisan yang baru saja aku selesaikan. Senyum Bumi seketika merekah, melihatnya seperti itu aku lantas mengambil kertasnya.
"Bumi, kamu hanya diizinkan senyum 8 detik, kenapa malah ketawa?"
Melihatku tersipu, Bumi justru semakin tertawa, tetapi kali ini tangannya meraih tubuhku untuk ada dalam dekapannya.
"Bumi, gimana kalau kita beli jus mangga dan fish karage kesukaanmu, aku rasa itu jauh lebih baik untuk menemanimu menggambar."
"Kamu kan sudah di sini."
"Apa nggak bisa dialihin aja?"
"Dialihkan gimana, Nala?"
"Rokokmu. Lagipula, beberapa minggu lalu kita baru aja dari toko buku kan, kamu juga memasukkan cukup banyak buku ke dalam keranjang, aku pikir itu bisa jadi peralihan."
"Nala, aku akan tetap membaca bukunya."
Aku seperti manusia yang serba salah, aku tahu semua pilihan hidupnya ada padanya, tetapi bagaimana mungkin aku membiarkan manusia yang aku cintai menyakiti dirinya sendiri.
Aku ingat sekali, Bumi pernah menyarankan segelas kopi yang ada di mejaku diganti dengan segelas jus yang menurutnya jauh lebih sehat. Aku juga ingat dia pernah memarahi teman sekantornya yang masuk rumah sakit akibat merokok.
Apa aku akan disebut sebagai orang gila jika bertanya siapa manusia yang ada di hadapanku ini? Apa dia benar-benar Bumi yang aku cintai?
☁
"Mungkin lagi pusing sama kerjaan, La."
"Nar, Bumi kerja di sana sudah hampir 5 tahun, aku juga berusaha untuk terus ada kalau dia mau cerita."
"Iya kalau itu aku ngerti."
"Kalau kamu jadi aku, kamu akan milih bertahan atau udahan?" Aku menghela napas, aku rasa aku membutuhkan oksigen lebih untuk pertanyaan yang nggak pernah terpikirkan untuk aku ucapkan.
"Karena Bumi merokok?"
"Bukan, Nar?"
"Terus?"
"Sas, pilhan itu nggak akan muncul kalau kamu sama orang yang tepat." Dipta tiba-tiba menyambar obrolanku dengan Dinar.
Mendengar ucapan Dipta aku langsung berpikir apa aku bukan orang yang tepat untuk Bumi sampai dia harus meluruhkan isi kepalanya di tempat lain?
"Sas, nggak usah terlalu dipikirin,"
"Dip," Dinar memberi isyarat pada Dipta dan berhasil membuat Dipta berhenti berbicara sesaat, "Kalau ada apa-apa kabarin aku ya, Sas." Dipta kembali melanjutkan pembicaraan.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Dipta.
Dinar seketika memelukku, namun hanya sebentar sebab aku mendapati Bumi dari balik kaca.
Sore ini kami memang ada janji untuk pergi ke pertunjukan seni.
☁☁
"Once you stop looking for what you want, you’ll find what you need."
"Aku belum tertarik,"
"Jangan buta, Nala."
"Daripada kamu, tuli."
"Kenapa harus berdebat?"
"Aku lebih baik masuk dalam selisih paham, mendengar kita saling membenarkan daripada melihatmu menghisap benda mematikan itu."
"Kita sudah pernah membicarakan ini, bukan?"
"Kamu dengan dirimu, bukan denganku."
Aku menundukkan kepalaku, perasaan dan kepalaku sama sakitnya hari ini,
"Kalau kamu cuma diam, aku nggak akan mengerti, Nala."
"Bicaraku juga tidak berguna."
"Kita butuh waktu dua minggu untuk bisa ada di sini,"
"Kamu bukan kita, aku nggak pernah butuh pertimbangan mengenaimu, Bumi."
Kini giliran Bumi yang membisu, seraya menoleh ke arahku yang mungkin dianggapnya cukup menyebalkan hari ini.
"Satu-satunya yang bisa kulakukan ketika takut kehilangan adalah dengan menjadi pantas untuk tidak ditinggalkan. Kamu tahu Bumi, kutipan dari buku Paradigma itu jadi salah satu hal yang membuatku masih ingin berdiri untuk hubungan ini."
Bumi bergegas mematikan rokok yang baru dihisapnya, kini seluruh pandangannya menuju ke arahku.
"Aku pikir selama ini, upayaku kurang keras untuk menjadi pantas. Ternyata memang tempatku bukan di sampingmu." Ucapku lirih, aku seperti digerogoti gusar.
"Nala, lihat aku."
"Aku ingin menyerah, Bumi."
Dengan egois pelukkan Bumi kini mendekapku.
"Nala, aku pikir kita hanya sedang penat satu sama lain. Kita hanya perlu istirahat."
Aku memilih untuk melepaskan pelukkan Bumi dan menghapus air mataku,
"Istirahat untuk menunda perpisahan? Bumi, aku sudah muak menelan perumpamaan-perumpamaanmu."
"Sejak kapan kamu mudah dikuasai amarah?"
"Sejak aku tahu kamu merasa tidak aku butuhkan, sejak aku tahu kamu tidak merasa diterima, sejak aku tahu perasaanku terlalu keras kepala, dan sejak aku tahu yang buta itu bukan aku, tapi kamu."
"Bagian mana yang masih kamu permasalahkan?"
"Bumi, aku mohon jangan membuatku merasa bersalah dalam hal ini. Aku rasa kita impas, dan nggak perlu memprotes bagian-bagian sebelumnya."
"Nala, "
"Aku rasa tempatmu bukan bersamaku."
Aku pikir sepulang pertunjukkan seni, aku akan kembali menemukan Bumi yang sebenar-benarnya, kalau kamu pikir ini hanya perihal rokok, kamu salah besar.
Ada banyak hal yang membuatku tidak lagi mengenali seorang Bumi, jadi bagaimana mungkin aku bertahan di dalam rumah yang tidak pernah meyakinkanku untuk tetap tinggal.
Bukan hanya kamu yang hancur, aku bahkan melihat Jakarta begitu menyeramkan malam ini. Tempat di mana kita di pertemukan sekarang berubah menjadi tempat di mana kita memberi makan ego satu sama lain.
Ini bukan hal yang mudah Bumi, seandainya kamu tahu setiap malam aku berperang hebat dengan perasaanku sendiri, menaruh cemas pada harapan yang semakin hari kian samar, kembali kukatakan ini tidak mudah, karena satu-satunya yang mudah di dalam cerita ini hanya ada pada bagian ketika aku memilihmu.
Namun, siapa sangka ternyata alam nggak lagi memanjakan upayaku untuk terus mempertahankan kita.
Tetapi barangkali,
barangkali memang harus seperti ini,
aku hanya bisa bersamamu sampai detik ini, dan setelahnya kita akan berjalan sebagai aku dan kamu, sebagai Nala dan Bumi, sebagai seseorang yang pernah saling menyayangi.
Komentar
Posting Komentar