Abar
"Ra, coba diem dulu!" Perintahnya sembari mengarahkan gawainya ke arahku,
"Jangan foto-foto, aku malu tau!"
Setelah ditaruhnya gawai ke saku celana, kini lelaki yang sedang di hadapanku itu sibuk dengan kucing yang menghampirinya. Keanu Raga, manusia yang baru ku kenal satu bulan ini, sudah mampu membawaku pada ruang kenyamanan, waktu yang selalu ia berikan padaku membuatku menjadi wanita paling bahagia di belahan bumi milik kita.
"Ga, apa kita bisa selalu kaya gini?"
"Kenapa bicara begitu?" Retina hitam pekat itu, kini menatapku hangat.
"Aku cuma takut."
"Aku di sini, dalam jangkauanmu."
Aku masih meratapi kalimatnya, mataku tertuju pada langit yang sedang tak berkolerasi dengan hati.
"Kita beli cotton candy yuk, Ra!"
Aku masih sibuk dengan pikiranku, dan tak mengidahkan kalimatnya.
Pikiranku benar-benar ramai diterpa tanya, apa aku harus kembali merasakan kehilangan?
Apa nestapa akan selalu jadi temanku? Apa akan seperti itu lagi, semesta?
"Ra," tangannya mencapai bahuku,
"Aku mau pulang, Ga."
"Kenapa, Ra?"
"Aku mau pulang!"
"Iya, ayo pulang."
Bagaimana mungkin, aku meninggalkan lelaki yang selalu mampu membawaku pada renjana, dan membantuku sembuh dari segala luka.
Semesta, apa aku harus meninggalkan Raga?
↼
Sudah seminggu aku menghindar dari Raga, sejak pertemuan terakhir kita di taman, pesan darinya tak pernah aku pedulikan, beberapa kali ku dapati Raga berada di area fakultasku, selama itu pun aku memilih jalan lain untuk pulang.
Ia juga sudah dua kali ke rumah, tapi Ibu membantuku mengatakan pada Raga kalau aku sedang tak ingin diganggu siapapun, terutama dirinya.
"Mau sampai kapan kamu lari dari Raga, Key?"
"Keyra nggak tau, Bu." Jawabku lirih,
"Kamu harus hadapi, Sayang. Beritahu Raga, jangan buat dia jadi manusia yang kebingungan karena sikapmu."
Aku pun terjatuh di pelukan Ibu, tangisku pecah, apa aku sanggup mengatakan semuanya.
Aku pernah mencoba merangkai cerita bersama seseorang, tapi aku dibiarkan sendirian, aku pikir itu patah hati terdalam. Kemudian, seseorang menemaniku sembuh dari luka itu, tidak lain ia sahabatku sendiri, tapi aku memilih menjahuinya, karena tak ingin menghancurkan cerita yang sudah lama terjalin, terlebih ketika aku tahu sahabatku yang lain menyukainya.
Di satu bulan terakhir, di tengah keramaian, seseorang membawaku pada ketenangan, sapaan yang memicu senyuman itu masih melekat dalam ingatan. Bahkan baru seminggu aku mengenalnya, aku sudah dibawanya ke negeri layaknya atas awan. Raga mengajarkanku banyak hal, ia mengenalkanku kepada makna-makna yang tersembunyi di alam raya, ia menghadiahkanku jutaan kebahagiaan di singkatnya pertemuan.
Tapi, semuanya harus runtuh, sebab kenyataan yang aku tahu, setelah dua minggu aku mengenalnya.
"Nama kamu siapa, gadis cantik?"
"Keyra, Tante."
Perempuan cantik, berambut sebahu yang berdiri di ambang pintu saat aku menunggu Raga, menyapaku dengan sangat hangat.
"Kamu tidak mau masuk?"
"Keyra, tunggu di sini saja, kata Raga dia cuma sebentar di dalam."
"Masuk dulu yuk, sepertinya Raga sedikit lama."
Aku mengangguk pelan, menuruti kata perempuan yang Raga sebut Mama.
Ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di rumah Raga. Saat di tengah perjalanan ia mengatakan ada sesuatu yang tertinggal, karena aku sudah menunggunya, ia memilih untuk menjemputku lebih dulu, baru kembali ke rumah.
Begitu memasuki ruang tamu, mataku langsung teralih ke bunga lily yang di letakkan di vas dengan ornamen cantik di sudut ruangan. Aku terkejut begitu melihat sebuah lukisan yang terpampang tepat di atasnya.
"Ini rumah Raga, Keyra." Mama tersenyum ke arahku, senyumnya manis dan penuh arti.
"Iya, Tante."
"Raga menyayangimu, Sayang."
Aku hanya tersenyum lirih menanggapi kalimat yang membuat jantungku berdegup, entah bahagia atau malah takut.
"Semua kembali padamu, kalau ingin dilanjutkan Mama ikut senang, tapi kamu harus tahu dari awal tidak akan ada yang bisa meninggalkan."
Kalimat yang diucap Mama, terus menghantuiku. Raga tidak akan meninggalkan begitupun denganku.
Selama satu minggu, kalimat itu menjadi pertimbangan yang selalu kubawa ke mana pun langkah kakiku pergi, hingga di hari ke 18, aku memutuskan untuk meninggalkan Raga.
Relung terobrak-abrik menyaksikan apa yang terpampang
Mengiris, hingga mampu mengundang tangis
Bahkan ceritanya baru akan kita rangkai
Tapi, harus dipaksa berhenti
Sebab apa yang telah kita yakini.
"Jangan foto-foto, aku malu tau!"
Setelah ditaruhnya gawai ke saku celana, kini lelaki yang sedang di hadapanku itu sibuk dengan kucing yang menghampirinya. Keanu Raga, manusia yang baru ku kenal satu bulan ini, sudah mampu membawaku pada ruang kenyamanan, waktu yang selalu ia berikan padaku membuatku menjadi wanita paling bahagia di belahan bumi milik kita.
"Ga, apa kita bisa selalu kaya gini?"
"Kenapa bicara begitu?" Retina hitam pekat itu, kini menatapku hangat.
"Aku cuma takut."
"Aku di sini, dalam jangkauanmu."
Aku masih meratapi kalimatnya, mataku tertuju pada langit yang sedang tak berkolerasi dengan hati.
"Kita beli cotton candy yuk, Ra!"
Aku masih sibuk dengan pikiranku, dan tak mengidahkan kalimatnya.
Pikiranku benar-benar ramai diterpa tanya, apa aku harus kembali merasakan kehilangan?
Apa nestapa akan selalu jadi temanku? Apa akan seperti itu lagi, semesta?
"Ra," tangannya mencapai bahuku,
"Aku mau pulang, Ga."
"Kenapa, Ra?"
"Aku mau pulang!"
"Iya, ayo pulang."
Bagaimana mungkin, aku meninggalkan lelaki yang selalu mampu membawaku pada renjana, dan membantuku sembuh dari segala luka.
Semesta, apa aku harus meninggalkan Raga?
↼
Sudah seminggu aku menghindar dari Raga, sejak pertemuan terakhir kita di taman, pesan darinya tak pernah aku pedulikan, beberapa kali ku dapati Raga berada di area fakultasku, selama itu pun aku memilih jalan lain untuk pulang.
Ia juga sudah dua kali ke rumah, tapi Ibu membantuku mengatakan pada Raga kalau aku sedang tak ingin diganggu siapapun, terutama dirinya.
"Mau sampai kapan kamu lari dari Raga, Key?"
"Keyra nggak tau, Bu." Jawabku lirih,
"Kamu harus hadapi, Sayang. Beritahu Raga, jangan buat dia jadi manusia yang kebingungan karena sikapmu."
Aku pun terjatuh di pelukan Ibu, tangisku pecah, apa aku sanggup mengatakan semuanya.
Aku pernah mencoba merangkai cerita bersama seseorang, tapi aku dibiarkan sendirian, aku pikir itu patah hati terdalam. Kemudian, seseorang menemaniku sembuh dari luka itu, tidak lain ia sahabatku sendiri, tapi aku memilih menjahuinya, karena tak ingin menghancurkan cerita yang sudah lama terjalin, terlebih ketika aku tahu sahabatku yang lain menyukainya.
Di satu bulan terakhir, di tengah keramaian, seseorang membawaku pada ketenangan, sapaan yang memicu senyuman itu masih melekat dalam ingatan. Bahkan baru seminggu aku mengenalnya, aku sudah dibawanya ke negeri layaknya atas awan. Raga mengajarkanku banyak hal, ia mengenalkanku kepada makna-makna yang tersembunyi di alam raya, ia menghadiahkanku jutaan kebahagiaan di singkatnya pertemuan.
Tapi, semuanya harus runtuh, sebab kenyataan yang aku tahu, setelah dua minggu aku mengenalnya.
"Nama kamu siapa, gadis cantik?"
"Keyra, Tante."
Perempuan cantik, berambut sebahu yang berdiri di ambang pintu saat aku menunggu Raga, menyapaku dengan sangat hangat.
"Kamu tidak mau masuk?"
"Keyra, tunggu di sini saja, kata Raga dia cuma sebentar di dalam."
"Masuk dulu yuk, sepertinya Raga sedikit lama."
Aku mengangguk pelan, menuruti kata perempuan yang Raga sebut Mama.
Ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di rumah Raga. Saat di tengah perjalanan ia mengatakan ada sesuatu yang tertinggal, karena aku sudah menunggunya, ia memilih untuk menjemputku lebih dulu, baru kembali ke rumah.
Begitu memasuki ruang tamu, mataku langsung teralih ke bunga lily yang di letakkan di vas dengan ornamen cantik di sudut ruangan. Aku terkejut begitu melihat sebuah lukisan yang terpampang tepat di atasnya.
"Ini rumah Raga, Keyra." Mama tersenyum ke arahku, senyumnya manis dan penuh arti.
"Iya, Tante."
"Raga menyayangimu, Sayang."
Aku hanya tersenyum lirih menanggapi kalimat yang membuat jantungku berdegup, entah bahagia atau malah takut.
"Semua kembali padamu, kalau ingin dilanjutkan Mama ikut senang, tapi kamu harus tahu dari awal tidak akan ada yang bisa meninggalkan."
Kalimat yang diucap Mama, terus menghantuiku. Raga tidak akan meninggalkan begitupun denganku.
Selama satu minggu, kalimat itu menjadi pertimbangan yang selalu kubawa ke mana pun langkah kakiku pergi, hingga di hari ke 18, aku memutuskan untuk meninggalkan Raga.
Relung terobrak-abrik menyaksikan apa yang terpampang
Mengiris, hingga mampu mengundang tangis
Bahkan ceritanya baru akan kita rangkai
Tapi, harus dipaksa berhenti
Sebab apa yang telah kita yakini.
Komentar
Posting Komentar