Lari
Berdua dengan isi kepala, di atap sebuah gedung, adalah salah satu hal paling romantis untuk memeluk diri sendiri. Luka, bahagia, tertawa, sampai menangis sejadinya di bawah langit yang senantiasa menjadi temanku bercerita membuatku merasa seperti dipeluk oleh-Nya. Mengelilingi mall untuk sekedar melihat kerumunan manusia, atau masuk ke toko buku, juga pernah aku pilih untuk mengalihkan yang sedang dalam pikiran. Atau pergi ke kedai kopi, untuk memesan segelas moccacino panas tanpa tambahan gula, kemudian berselancar pada file-file lama, meski tidak merubah apapun, setidaknya isi kepalaku bisa sedikit melebur. Atau justru diam saja di tempat tidur, memandangi langit-langit dan menjauhi siapapun yang bisa berbicara, karena aku hanya ingin ditemani isi kepalaku, mungkin boleh ditambah dengan sedikit musik kesukaanku.
Lihatlah berapa macam cara yang pernah aku lakukan untuk lari, entah lari dari apa.. mungkin sekarang aku menulis blog ini juga untuk lari, atau ingin mencoba lari, lagi. Hidup di dunia dengan berbagai macam pertanyaan yang nggak semua bisa diterima oleh akal, membuatku ingin sekali berada di sebuah ruang yang hanya ada aku dan ratusan buku. Sialnya, aku nggak bisa menutup realita dan harus menelan kejutan dunia.
Hal-hal yang nggak bisa aku kendalikan, yang ingin sekali aku kendalikan agar bisa menjumpai tenang, berujung pada perandaian. Seperti halnya perasaan, kalau saja bisa aku kendalikan, mungkin aku nggak akan pernah kebingungan dengan sebuah jawaban. Tapi lagi-lagi tugasku menerima, ya lagi-lagi.
Karena mau sejauh apapun aku lari, mau bagaimana pun aku mencoba menghindari, aku akan terus bertemu dengan hal-hal yang memang seharusnya aku hadapi.
Rasanya aku ingin memeluk diriku seerat mungkin detik ini, kemudian berbisik padanya dan berterima kasih karena sudah berusaha sebaik mungkin menjalankan peran yang diberikan oleh-Nya. Dan ya, detik ini juga aku ingin kembali lari, kalau tidak ke sebuah tempat, setidaknya aku bisa lari dari pikiranku sendiri.
Komentar
Posting Komentar