dari-Nya.

"Ajarin caranya ikhlas."

Tulisku di salah satu postingan akun penulis yang sedang merangkul para pengikutnya untuk bercerita,

Saat itu kegamangan sedang menghampiriku, aku berada di antara dua pilihan
Bertahan pada halaman yang tak jua menemukan penyelesaian, atau beranjak ke halaman baru yang belum sama sekali aku tahu.

Kemudian, beberapa hari setelahnya,
Satu pesan datang untukku, cukup membuat penasaran.

Sebuah foto, foto seorang lelaki yang wajahnya tak asing.
Seorang yang beberapa bulan lalu, masih memberikan sebuah pertanyaan tanpa jawaban,
Seorang yang satu tahun lalu, menghiasi ceritaku dengan senyuman,
Seorang yang dua tahun lalu, tak pernah lepas dari jangkauan
Seorang yang tiga tahun lalu, memperkenalkanku pada perasaan paling dalam saat rintik hujan,
Seorang yang empat tahun lalu, ku perhatikan dari kejauhan,
Seorang yang lima tahun lalu, begitu membuatku penasaran, dan,
Kini wajahnya terpampang dengan seorang perempuan yang juga aku kenal.

Semua berlalu dengan cepat, atau mungkin hanya aku yang merasa semuanya begitu cepat?
Ah, memang selama ini hanya aku yang menganggap cerita ini ada.

Sungguh aneh, ketika melihat foto tersebut,
Tak ada lagi duri-duri yang menusuk nurani,
Tak ada lagi puisi bertema elegi,
Yang ada hanya senyum seulas dan kelegaan hati.

Kini perasaan untuknya sudah menjadi asing, tak lagi bisa kukenali.

Aku rasa ini jawaban dari-Nya, bahwa ikhlas datangnya dari diri, bukan dicari.
Karena semua terasa begitu baik, meski kelihatannya tidak.
Aku tak lagi peduli dengan balasan perasaan yang pernah sepenuhnya ku berikan pada seseorang.


"Batu karang tak bisa memilih di mana tempatnya berpijak, kalau saja ia tahu ombak akan menerjangnya, mungkin ia takkan memilih lautan.
Tapi, apa boleh buat, kalau ia tak pernah di tempatnya itu, ia takkan pernah tahu rasanya berusaha berdiri kokoh di tengah terjangan yang berkali-kali menghantam."

Segala sesuatu beralasan, percayakan saja pada-Nya.

Komentar

Postingan Populer