Arunika Pertama Nala #1
Tapi ini bukan sebuah masalah, bahkan jika ini adalah masalah—aku tetap di sini
dengan janji yang boleh kau tagih.
Jari-jari yang menenun kain serapah diguyur hujan dengan sambutan dialog antara pohon dan tanah. Malam ini, Jakarta pukul 20.00 tanpa melihat kiri dan kanan, hanya berfokus pada suara bising kendaraan dan suara lonceng kedatangan. Iya, stasiun seperti ruang magis setelah kamar tidurku, riuh suara manusia yang entah membicarakan apa, dan suara kedatangan kereta yang mengalahkan musik yang tengah kuputar, berhasil memecah kesepian.
✉️ Bumi
Aku harus gantiin Pak Putra buat meeting besok, kita ketemu minggu depan ya.
Aku meneruskan langkah dengan hati tidak keruan, selembar tiket menuju Blora jadi satu-satunya alasan arah masih bisa ku jelajah. Aku nggak tahu sudah berapa lama aku berteman dengan paham untuk terus bersama laki-laki yang seharusnya berada di sampingku sekarang.
✉️ Bumi
Nala, jangan lupa makan. Jangan beli nasi goreng, minum air putih.
Aku nggak tahu ini kutukan dari nama belakangnya atau bukan, karena hal-hal yang membuatku marah selalu bisa tiba-tiba pamit kemudian menyadarkanku, kalau Bumi adalah rumah, ruang di mana aku merasa aman.
Dua tahun berlayar bersamanya memang tidak terlalu mudah, tetapi setidaknya kami tidak menjumpai badai besar yang datang dari luar. Bumi, memang bukan lelaki romantis yang setiap kali mengirimiku pesan dengan diksi-diksi manis. Dia juga bukan seseorang yang tiba-tiba memberiku kejutan ketika aku sedang marah. Dia, manusia. Manusia yang datang dengan ketenangan dan badainya sekaligus, untuk berada bersamaku, memperlihatkan sebuah lukisan indah di antara gelapnya dunia.
Aku sampai lupa, seharusnya aku tengah marah dengannya, sebab dia membatalkan janji yang sudah kita atur satu hari sebelumnya. Mungkin, memang Tuhan menciptakan banyak maaf di dalam cerita ini.
“Nala, kalau ngambek bisa nggak, gausah jauh-jauh.” Suaranya datang dari arah belakangku, dengan volume yang hampir membuat seluruh penunggu stasiun menjadikan kita berdua sebagai pusat dunia.
“Nar, aku udah lama pengen ke Blora lagi, dan sekarang waktunya."
“Please, lo kalau mau bohong jangan sama gue.”
“Nar, it’s okay, aku emang butuh liburan aja.”
“Udah lah, La. Kayanya emang nggak harus sama dia.”
“Nar, aku sama Bumi baik-baik aja.”
Dinar menghela napas mendengar kalimatku, wajahnya seperti seorang yang kelelahan, “Kita cari penginapan deket sini aja ya, La. Gausah berangkat, Blora jauh loh, kamu sendirian. Lagian kenapa sih nggak bilang kalau mau pergi, kan gue bisa ambil cuti dulu.”
“Aku kan emang udah lama mau ke sana.”
“Nggak usah berangkat ya, ini tiketnya gua bayarin deh, gue tuker sama es teh manis unlimited.”
“Narrrr….” Aku meraih tubuh Dinar kemudian memeluknya,
“Nggak usah berangkat ya, besok kita ke museum aja, kita ajak Dipta sekalian.”
Mataku berlinang di hadapan Dinar, aku selayaknya manusia yang kehausan di tengah gurun. Bumi aku telah terjebak dengan seniman, langkahku sudah berada di dalam, dan aku tidak bisa ke mana-mana.
☁
Aku tidak akan memejamkan mataku, kalau tahu berada di sampingmu adalah mimpi. Aku tahu waktu tidak hanya berputar untukku, bahkan rasanya terlalu berlebihan jika aku harus berantakan hanya karena sebuah kabar.
Setelah memutuskan untuk mengikuti permintaan Dinar, aku tidak bisa tidur sejak tadi, dan sebentar lagi akan pagi. Di lantai 12, aku bisa melihat penerang bangunan yang menjelma bintang dengan jelas, melihat sesuatu yang besar berubah kecil, memandangi kertas yang berada di tanganku dengan nanar, kemudian perlahan melihat matahari yang akan kembali pada bumi.
“Nala, kamu sudah sampai?”
“Aku di Ashley.”
“Ashley?”
“Iya, Ashley Wahid Hasyim.”
“Kamu nggak kasih tahu aku?”
“Aku baru mau mengabarimu, cuma kamu telanjur menelpon. Aku boleh ya, aktifin kamera.”
“Iya boleh,”
Aku mengarahkan ponselku ke jendela penginapan, “Aku dapet kejutan dari langit,”
“Fajar?”
“Ini arunika pertamaku, Bumi.”
“Aku senang kalau kamu senang,”
“Aku senang kalau kamu di sini.”
“Lusa kita ketemu ya,”
Arunika merupakan suatu peristiwa di mana matahari muncul di atas horizon timur, tanpa malu-malu, perlahan menciptakan senyuman pada Jakarta. Selayaknya arunika, sebagian jiwaku tanpa malu-malu melengkungkan senyum. Aku tahu, Bumi juga tidak mengizinkan, waktu dengan seenaknya membentangkan kesepian di tengah kami.
“Maaf ya, Nala. Aku tahu kamu kesal sama aku, karena janji yang nggak aku tepati.”
“Hey, it’s okay, aku ngerti. Ini bukan masalah.”
“I know that it’s hard for you to love me, but I'm so lucky to have you, Sastranala.”
Ini arunika pertamaku, Bumi.
Kamu pernah bilang bahwa langit adalah kejutan paling menyenangkan.
Aku setuju, dan aku masih ingin bersamamu.
Komentar
Posting Komentar