Bumi dan gana #2

Laki-laki itu seperti punya dunianya sendiri, tidak peduli dengan pasangan yang bergandengan tangan, riuh suara sekumpulan orang yang bermain dengan telepon genggam, bahkan pada nyamuk di taman yang sudah cukup lama menghisap tangan. 

Waktu aku tahu namanya, aku sempat memikirkan obsesi apa yang ditaruh orang tuanya, maksudku, sebut saja nama keduanya “Arshaka” dalam bahasa sansekerta berarti berakar kuat, lekat, tetap, abadi dan tertanam. Sementara, Bumi, planet ketiga, tempat tinggal manusia, berotasi dan berevolusi, rumit. 

Mengartikannya seperti belajar tindar tutur yang berkolaborasi dengan semiotika, memahaminya seperti memperdalam kalkulus pada matematika, dan aku terjebak—mengizinkan dijebak. 

“Nggak semua harus punya makna, Nala.”

“’Tapi seseorang menyematkan doa pada namamu, Bumi.”

“Kamu terlalu kesusasteraan.”

“Ibuku memang berharap begitu, dan doanya terkabul, karena putri satu-satunya ini, terlalu kesusasteraan.” Aku membalas pernyataan Bumi dengan nada sedikit menjengkelkan.

“Kamu nggak harus setuju sama omongan orang.”

“Kamu kan manusia bukan orang.”

Mungkin aku adalah bagian menyebalkan yang hidup dalam ceritanya, tetapi aku adalah manusia yang paling menyayanginya, dan aku bisa menjamin itu. Meski harus merelakan banyak energi yang terbuang di enam bulan pertama, tapi ternyata itu bukan suatu masalah, karena kita ada sampai sekarang.

“Kalau kamu jadi Minke, kamu bakal rela Annelies pergi?” Sembari bersandar di bahunya dengan posisi tangan yang sedang membaca buku, aku berusaha menjaringnya untuk masuk kedalam diskusi, diskusi yang lebih jauh, karena isi kepala adalah satu dari banyak hal yang membuatku jatuh cinta dengannya. 

“Nggak ada yang rela ditinggal sama manusia yang dia sayang.”

“Tapi kan ujung-ujungnya Annelies pergi.”

“Kalau aku jadi Minke, kamu rela aku tinggal?”

“Kalau kamu jadi Minke, aku sih lebih memilih menjadi Nyai Ontosoroh.”

Bumi hanya memberikan sekelibat tawa, aku yang mendengarnya langsung mengangkat kepalaku dari bahunya. “Kamu mau sampai kapan berkutat sama buku Pak Pram?”

“Kenapa? Kita kan baru selesai keliling tadi.”

“Hanya mencari makanan gana.”

“Yaudah, sekarang kita ke rumahku, kita ketemu gana.”      

Memberi pemahaman bahwa kesepian tidak berbanding lurus dengan perasaan jenuh. Sebagiannya tertidur, sebagian lagi bersandar, aku ingin bersamanya, selayaknya ia menjagaku sampai lelap, tanpa melibatkan rasa muak.

Aku sekarang mengerti kenapa kucing-kucing di jalan betah berada di dalam gendongannya, karena dia Bumi, seniman handal yang nggak cuma pintar melukis, tetapi juga memainkan peran, aku bahkan meyakini bahwa cinta adalah bagian dari seni, dan Bumi adalah pelakunya.

Gana adalah salah satu bagian dari objek seni Bumi, seekor kucing bercorak kuning kecoklatan yang berpadu dengan warna hitam. Bumi menyematkan nama gana tentu tanpa alasan, karena menurut Bumi di beberapa bagian filosofi itu tidak terlalu penting.

"Aku boleh gantian gendong gana?”

“Kamu kan setiap hari ketemu gana, Bumi.”

“Aku nggak rela kalau gana lebih dekat ke kamu.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu pergi aku harus repot dua kali. Membereskan diriku dan memberi paham pada gana.”

“Aku nggak akan pergi,” Aku sedikit tersentak mendengar pernyataan itu, bisa-bisanya Ia meragukan hal yang nggak pernah meragukannya sama sekali. “Aku nggak suka ya, Bumi. Iya, aku tahu mungkin menurutmu semua hal di dunia ini nggak ada yang menjamin, tapi berupaya untuk menjamin suatu hal itu tetap asa bisa kita lakuin.” Aku menaikkan nada bicaraku, dan memberikan gana pada Bumi.

“Kamu mau ke mana?”

“Ambil minum, kepalaku panas.” Aku pergi meninggalkannya menuju dapur, aku mendengar langkah kakinya ikut bersamaku.

“’Nala, aku minta maaf.” Langkahnya tidak berjalan sendirian, ada suara lirih yang mengikutinya.

Tidak hanya Bumi, gana seolah bersekongkol dengan majikannya ini, karena memasang mata yang berhasil membuatku meluruhkan amarah. 

“Iya, aku maafin."

Bumi meraihku untuk berada dalam dekapan, dekapan yang lebih sering Ia berikan untuk gana. 

Melihat gana melepaskan diri dari Bumi mataku dialihkan oleh benda yang ada di atas meja kerjanya. 

"Rokok? Punyamu?"

“Aku baru mencobanya seminggu ini, Nala.”

Aku meringis tragis mendengar jawaban itu keluar dari mulutnya,

“Aku nggak akan merokok saat lagi sama kamu,”

“Aku nggak akan minta itu, tapi yang menjadi masalah benda ini bisa perlahan menggerogotimu.”

“Nala, ini nggak akan sering.”

“Telingaku kurang berfungsi ya?” Kini giliran panca inderaku yang melirih,




Kalau ribuan cerita kau pendam bersama dengan asap yang diterbangkan, lantas untuk apa Tuhan menciptakanku? 


Komentar

Postingan Populer