Karena aksara kita bersua
08 Juni 2018 di Gramedia Matraman, menjadi awal pertemuan.
Saat itu, penulis kenamaan Fiersa Besari sedang menggelar tour buku Arah langkah, aku yang termasuk penikmat karyanya cukup antusias, karena untuk pertama kalinya akan bertemu dengan salah satu yang menjadi inspirasiku di bidang literasi. Aku datang sendiri hari itu, saat memasuki ruangan acara, aku memilih duduk di sebelah perempuan yang sepertinya membawa teman lelaki, mungkin karena kurang nyaman, akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke tempat duduk lainnya. Nggak lama, seorang perempuan sebaya denganku duduk di sampingku. Karena acaranya masih lumayan lama, aku memutuskan untuk keliling gramedia sebentar, lalu aku iseng menitipkan bukuku pada perempuan yang baru saja datang, sebenarnya biar nggak ada yang nempatin tempat duduknya juga sih, hehe...
"Titip dulu ya, aku mau keluar sebentar." kataku saat itu,
dan dia dengan senang hati bilang iya, baik kan?
Cuma sebentar, iya aku langsung balik lagi. Aku mulai buka obrolan basa-basi sama perempuan yang aku titipin buku tadi, dan ternyata dia anaknya enak diajak ngobrol, selain kita satu frekuensi, caranya bicara dan mendengarkan bikin aku makin nyaman bicara sama dia. Ehiya, kita udah kenalan, nama perempuan itu Eva, aku panggil Kak Eva karena dia satu tingkat di atasku. Abis cerita soal buku, dia minta nomor handphone, aku kasih buat nambah temen, kebetulan temen literasiku bisa dihitung jari, di sosial media kita juga mulai pertemanan hari itu, sampai acara selesai aku sama dia terus, ditemenin nunggu jemputan pulang malah. Nah, dari situ kita jadi intens komunikasi lewat handphone, topik utamanya masih buku, sampai akhirnya kita saling cerita, soal seseorang yang bisa bikin perasaan jadi aneh, siapa lagi kalau bukan lelaki.
Malam itu, sampai larut, kita komuikasi lewat panggilan suara.
Satu kalimat yang paling aku ingat darinya adalah, "Coba kamu tanya lagi, apa peran kamu di hidupnya." dan kalimat itu, berhasil ingetin aku kalau siapapun yang hadir sudah dengan porsi pas-nya. Katanya, Kak Eva juga diingatkan lewat buku Paradigma karya Syahid Muhammad mengenai peran ini.
Tapi omongannya ampuh beneran deh, bayangin yah, misalkan kamu nyaman sama seseorang dan dia pun juga begitu, sampai akhirnya kamu terbawa perasaan, jatuh cinta , tapi ternyata dia udah punya orang lain yang lagi ia perjuangin, kalau kamu mikir pendek, pasti kamu kecewa, merasa di php-in, tapi coba deh kalau pikirannya diganti jadi, hmmm, mungkin peranan dia di hidup kamu memang buat kasih tahu kalau nggak semua yang kamu suka bisa kamu miliki, atau dia hadir cuma untuk memberi pelajaran lalu mendewasakan, porsi-nya gitu, Pasti lebih enak, kamu jadi nggak perlu buang-buang waktu buat galau. Memang, nggak mudah, tapikan kalau dicoba, nanti terbiasa,
--
Oke, setelah malam itu kita curhat panjang lebar tentang cowo abu-abu, akhirnya kita mutusin buat ketemu yang kedua kalinya di The Reading Room, Kemang - Jakarta Timur, tepat tanggal 31 Desember 2018, yap akhir tahun.
Setelah 6 bulan, kita nggak ketemu, awal datang jujur, aku masih malu dan sedikit canggung, tapi karena Kak Eva, suasana berubah cair, jadi sejuk lagi, kaya lagi liat kamu hehe...
"Ayo kita mulai dari, apa kabar Dewi?"
Itu ciri khas dia banget kalau mau mulai cerita, nada dan caranya bicara bisa buat orang merasa dipedulikan, suer. Kita masuk kafe sekitar jam 10.15, karena kebetulan ini malam tahun baru kafe tutup lebih cepat, iya tanpa sadar beberapa menit kafe mau tutup kita baru selesai cerita, cerita tentang semua hal, nggak cuma cinta, tapi juga mimpi.
Temanku ini mahasisiwi di Universitas Negeri Jakarta, jalur SNMPTN loh, keren ya. Saat dia cerita soal mimpi, dan perjuangannya bisa sampai di ibu kota, aku langsung kagum bukan main. Kenapa? kalian boleh baca beberapa catatan kakinya di suryatieva.blogspot.com
Dan, hari ini, dia berhasil buat orang-orang yang sayang sama dia menangis bahagia karena bangga, dia baru aja di wisuda, dan ini tepat di pertemuan kita yang ke-tiga, Nggak bisa nulis banyak, bahagia abisnya, jadi susah dituanginnya.
Intinya, terima kasih untuk Bung Fiersa, Mas Iid, buku-buku, dan tentunya Allah swt, karena telah mengizinkan saya bersua dengan manusia yang cukup.
Dua kutipan di atas, dan masukkan dari manusia yang sedang dan semoga selalu berbahagia ini, jadi salah satu alasan saya untuk selalu berpikir positif dan terus percaya bahwa apapun yang terjadi, adalah yang terbaik dari-Nya. Selamat berjuang mengejar mimpi yang lain Kak, Allah menyertaimu. 🖤
Berhubung tadi Jiexpo panas bukan main, kita memilih berfoto di bawah pohon rindang, biar teduh kaya senyum kamu, oke, bye.
Saat itu, penulis kenamaan Fiersa Besari sedang menggelar tour buku Arah langkah, aku yang termasuk penikmat karyanya cukup antusias, karena untuk pertama kalinya akan bertemu dengan salah satu yang menjadi inspirasiku di bidang literasi. Aku datang sendiri hari itu, saat memasuki ruangan acara, aku memilih duduk di sebelah perempuan yang sepertinya membawa teman lelaki, mungkin karena kurang nyaman, akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke tempat duduk lainnya. Nggak lama, seorang perempuan sebaya denganku duduk di sampingku. Karena acaranya masih lumayan lama, aku memutuskan untuk keliling gramedia sebentar, lalu aku iseng menitipkan bukuku pada perempuan yang baru saja datang, sebenarnya biar nggak ada yang nempatin tempat duduknya juga sih, hehe...
"Titip dulu ya, aku mau keluar sebentar." kataku saat itu,
dan dia dengan senang hati bilang iya, baik kan?
Cuma sebentar, iya aku langsung balik lagi. Aku mulai buka obrolan basa-basi sama perempuan yang aku titipin buku tadi, dan ternyata dia anaknya enak diajak ngobrol, selain kita satu frekuensi, caranya bicara dan mendengarkan bikin aku makin nyaman bicara sama dia. Ehiya, kita udah kenalan, nama perempuan itu Eva, aku panggil Kak Eva karena dia satu tingkat di atasku. Abis cerita soal buku, dia minta nomor handphone, aku kasih buat nambah temen, kebetulan temen literasiku bisa dihitung jari, di sosial media kita juga mulai pertemanan hari itu, sampai acara selesai aku sama dia terus, ditemenin nunggu jemputan pulang malah. Nah, dari situ kita jadi intens komunikasi lewat handphone, topik utamanya masih buku, sampai akhirnya kita saling cerita, soal seseorang yang bisa bikin perasaan jadi aneh, siapa lagi kalau bukan lelaki.
Malam itu, sampai larut, kita komuikasi lewat panggilan suara.
Satu kalimat yang paling aku ingat darinya adalah, "Coba kamu tanya lagi, apa peran kamu di hidupnya." dan kalimat itu, berhasil ingetin aku kalau siapapun yang hadir sudah dengan porsi pas-nya. Katanya, Kak Eva juga diingatkan lewat buku Paradigma karya Syahid Muhammad mengenai peran ini.
Tapi omongannya ampuh beneran deh, bayangin yah, misalkan kamu nyaman sama seseorang dan dia pun juga begitu, sampai akhirnya kamu terbawa perasaan, jatuh cinta , tapi ternyata dia udah punya orang lain yang lagi ia perjuangin, kalau kamu mikir pendek, pasti kamu kecewa, merasa di php-in, tapi coba deh kalau pikirannya diganti jadi, hmmm, mungkin peranan dia di hidup kamu memang buat kasih tahu kalau nggak semua yang kamu suka bisa kamu miliki, atau dia hadir cuma untuk memberi pelajaran lalu mendewasakan, porsi-nya gitu, Pasti lebih enak, kamu jadi nggak perlu buang-buang waktu buat galau. Memang, nggak mudah, tapikan kalau dicoba, nanti terbiasa,
--
Oke, setelah malam itu kita curhat panjang lebar tentang cowo abu-abu, akhirnya kita mutusin buat ketemu yang kedua kalinya di The Reading Room, Kemang - Jakarta Timur, tepat tanggal 31 Desember 2018, yap akhir tahun.
Setelah 6 bulan, kita nggak ketemu, awal datang jujur, aku masih malu dan sedikit canggung, tapi karena Kak Eva, suasana berubah cair, jadi sejuk lagi, kaya lagi liat kamu hehe...
"Ayo kita mulai dari, apa kabar Dewi?"
Itu ciri khas dia banget kalau mau mulai cerita, nada dan caranya bicara bisa buat orang merasa dipedulikan, suer. Kita masuk kafe sekitar jam 10.15, karena kebetulan ini malam tahun baru kafe tutup lebih cepat, iya tanpa sadar beberapa menit kafe mau tutup kita baru selesai cerita, cerita tentang semua hal, nggak cuma cinta, tapi juga mimpi.
Temanku ini mahasisiwi di Universitas Negeri Jakarta, jalur SNMPTN loh, keren ya. Saat dia cerita soal mimpi, dan perjuangannya bisa sampai di ibu kota, aku langsung kagum bukan main. Kenapa? kalian boleh baca beberapa catatan kakinya di suryatieva.blogspot.com
Dan, hari ini, dia berhasil buat orang-orang yang sayang sama dia menangis bahagia karena bangga, dia baru aja di wisuda, dan ini tepat di pertemuan kita yang ke-tiga, Nggak bisa nulis banyak, bahagia abisnya, jadi susah dituanginnya.
Intinya, terima kasih untuk Bung Fiersa, Mas Iid, buku-buku, dan tentunya Allah swt, karena telah mengizinkan saya bersua dengan manusia yang cukup.
"Saya kira, baik itu tidak ada yang terlalu. Barangkali jika kau berpikir demikian, kau sedang takut. Baik-lah tanpa takut." -iidmhd.
"Tidak semua yang sayang ada di samping nemenin berjuang, beberapanya justru senang kasih kamu banyak ruang." -iidmhd.
Dua kutipan di atas, dan masukkan dari manusia yang sedang dan semoga selalu berbahagia ini, jadi salah satu alasan saya untuk selalu berpikir positif dan terus percaya bahwa apapun yang terjadi, adalah yang terbaik dari-Nya. Selamat berjuang mengejar mimpi yang lain Kak, Allah menyertaimu. 🖤
Daebaaaaak...!
BalasHapus💛💛💛
Hapus