Dialog Awan


"Langit akan selalu jadi pelindung untuk penghuni planet-Nya,"

..............


"Sekarang aku mengerti awan, kenapa tolak ukurku dalam memandang lelaki adalah dirinya,"

"Kamu hebat, dia masih menjagamu."

"Bagaimana mungkin?"'

"Karena kamu hebat."

"Apa karena lukisan langit akhir-akhir ini, jadi kalimat itu keluar darimu?"

"Mungkin kamu merasa hidup seperti di dalam persidangan......"

Aku mengusap air mataku, kemudian melanjutkan dialog awan, "Tapi, kamu nggak boleh lupa kalau di atas awan ada cerahnya langit biru, maka menangislah dengan senyuman. Kalimat itu masih sangat melekat di benakku, ketika hantaman datang dari luar."

"Dia percaya kamu perempuan hebat, senyummu takkan hilang hanya karena sebuah kekecewaan, kamu sudah pernah melewati itu, bukan?"

"Tapi, egoku sudah merusak semuanya, harusnya waktu itu aku memberikannya kesempatan untuk berbicara langsung bukan malah dikendalikan amarah kemudian menyerangnya terus-terusan."

"Tidak ada yang perlu disesali, kamu tahu sendiri mengertinya manusia beda-beda."

Aku menatap nanar awan yang mulai bergerak, ragaku begitu hancur sore itu, kaca yang aku genggam dijatuhkan seseorang hingga berantakan, raga yang aku kira tempat pulang paling aman ternyata adalah ruang yang membuatku terjebak pada sesak. 

Aku tahu sekarang, kenapa Tuhan masih menjaga namanya dengan baik, karena pada kenyataannya, meski keadaan aku dengannya sedang tidak baik-baik saja, aku belum benar-benar menemukan ruang, di mana ceritaku diterima tanpa kepura-puraan.


"Sudah selesai menangisnya?"

"Mungkin untuk detik ini cukup."

"Langit di atas tempat tidurmu, baca pesannya."

Aku menyeka air mataku hingga tuntas kemudian meninggalkan awan.

Komentar

Postingan Populer