Untuk Jakarta, 2029
Aku menulis ini ketika sedang menunggu kereta untuk pulang. Mungkin ini jadi suratku yang pertama untuknya dengan melibatkan keberanian.
Masih jelas tertanam dalam ingatan bagaimana lelaki berseragam ketulusan itu berhasil memecahkan pertahananku, tidak hanya itu, ia juga membawakan kata layak dan yakin yang sudah lama hilang dari diriku. Tawanya yang jadi penghancur keheningan membawaku berjalan sampai menjadikannya tempat pulang paling aman.
Aku juga masih ingat, hari pertama pertemuan kami adalah satu hari setelah ulang tahunnya, dan ia menceritakan banyak hal tentang sebab memilih sebuah tujuan.
Berurusan dengan manusia yang masih dikaitkan dengan cerita lamanya adalah hal yang cukup menguras daya dalam pengendalian prasangka. Itu sebabnya aku tak ingin hal yang tidak aku kehendaki bisa menghancurkan apa yang sudah aku dan dia susun dengan baik.
Sama seperti perkataan seseorang kepadaku bahwasannya, "Tidak mudah menerima seseorang yang telah dipenuhi luka disekujur sanubarinya."
Tapi ketahuilah, aku sudah menutup tentangnya jauh sebelum perasaanku jatuh kepadamu.
Pena dan bukuku memang belum banyak mengabadikan tentangmu, dan itu tidak sama sekali ada hubungannya dengan perasaanku. Karena, aku tidak ingin kamu hanya menjadi sebatas kata mungkin, jadi biarkan aku lebih banyak mempraktikan seni ini di hadapanmu. Iya, bukankah cinta adalah bagian dari seni, jika kita tidak sependapat, kita bisa diskusikan.
Aku berupaya menjaga apa yang kamu titipkan, dengan ingin tanpa tapi, meski aku tahu dalam hal ini kata pasti butuh upaya lebih.
Maaf jika cerita yang sebenarnya tidak kamu suka, malah jadi santapan indera pendengaranmu, aku hanya ingin membagikan semua hal, karena tanpa sadar separuh duniaku sudah berhasil kamu telusuri, dan maaf jika kecewa sering hadir hanya karena aku.
Jadi, jika nanti kamu temukan surat ini dan kita sudah tak sehangat hari ini, ketahuilah namamu pernah jadi yang nomor satu di dalam kepalaku.
Komentar
Posting Komentar